Selasa, 04 Mei 2010

2.300 Mayat korban Gempa yushu Dikremasi masal

Lokasi pelaksanaan "kremasi ribuan mayat" di Kecamatan Jiegu. (INTERNET)

Lebih dari seribu Lamma, (17/4), menggelar upacara "kremasi massal 1000 orang" bagi korban gempa Kecamatan Jiegu. Lamma yang memimpin upacara kremasi mengatakan bahwa jumlah mayat yang dikremasi mencapai 2.300, sekitar 3 kali lipat lebih jumlah korban resmi yang diumumkan pemerintah, dan jauh dari angka 1.484 korban tewas yang diumumkan pemerintah, 16 April.
Ia mengatakan bahwa angka sesungguhnya sulit diperkirakan mengingat banyak sekali korban yang masih terkubur di bawah reruntuhan bangunan dan total korban tewas sesungguhnya jauh di atas jumlah resmi yang diumumkan. Wilayah lokasi gempa dipenuhi bau busuk menyengat, terutama di titik lokasi yang mengalami kehancuran parah.
Beberapa orang masih berusaha mencari korban hidup di balik puing-puing bangunan, bau busuk di sekitar situ bahkan lebih parah. Ada rumor mengatakan di bagian barat Kecamatan Jiegu sudah mulai terjangkit wabah tipes.
Harian Ming Bao melaporkan, dalam upaya mengkremasi ribuan jasad korban, pada 16 April pemerintah lokal akhirnya menggali parit sepanjang 50 meter, dengan lebar 10 meter dan kedalaman 2 meter di kaki Bukit Jiajieshan, Kabupaten Yushu. Pagi keesokan harinya, 100 unit truk dikerahkan untuk mengirim jasad korban gempa ke lokasi kremasi. Korban tewas dari berbagai usia mulai dari yang tua hingga balita usia 2 - 3 tahun, sebagian jasad mengalami cedera parah dan banyak yang sudah tidak lengkap anggota tubuhnya.
Dilaporkan bahwa reporter Harian Ming Bao, Tan Chunjian, berencana berangkat ke Yushu dan menetap beberapa hari di lokasi gempa. Dengan menyewa sebuah mobil, supir yang mengendarai mobil menyarankan agar Tan membawa beberapa peralatan seperti air, oksigen, makanan dan medis.
Setelah persiapan matang, berangkatlah mereka. Namun setibanya di sana, ia sangat terkejut melihat kondisi lokasi gempa jauh dari yang diberitakan. "Mana mungkin di sini hanya tewas ratusan orang, saya kira paling sedikit korban tewas mencapai 20.000 orang. Coba lihat setiap rumah menimbun jasad di dalamnya. Di sana-sini orang-orang tampak menggotong mayat," ujar sang supir.
Menyaksikan banyaknya mayat yang berserakan ditambah parahnya kondisi akhirnya ia memutuskan untuk segera meninggalkan lokasi. Ia bahkan tidak berani menghentikan mobilnya di sekitar tempat evakuasi dan menghindar untuk berbicara dengan penduduk Tibet. Rasa takut bahkan membuatnya lupa dengan janji yang diucapkannya untuk menemani si reporter selama berada di sana.
Menurut pemberitaan televisi NTD (New Tang Dynasty), pasca gempa, perwakilan pemerintah darurat Tibet di Taiwan, Dawa Tsering, terus berusaha menghubungi sanak keluarganya yang berada di sana. Ia menyebutkan bahwa tim penyelamat yang dikirim ke lokasi tidak banyak dan jumlah korban tewas jauh melampaui angka yang diumumkan PKC.
"Jasad yang terkumpul di Vihara Jiegu hingga kemarin malam sedikitnya mencapai 400 lebih dan masih menyisakan banyak kumpulan mayat di beberapa alun-alun dan lapangan," ungkap Dawa.
Selanjutnya ia mengatakan bahwa transportasi setempat tidak memadai, hal ini menyebabkan belasan desa di sekitar radius 40 km Kecamatan Jiegu belum tersentuh tim penyelamat. Saat ini tim penyelamat dari proses evakuasi hanya mengandalkan Lamma setempat dan Lamma dari Sichuan.
Karena pihak penguasa PKC tidak membiarkan bantuan tim penyelamat asing masuk, ribuan Lamma dan biarawan dari vihara setempat menjadi kekuatan penyelamat yang pertama membantu proses evakuasi. Pasca gempa, para Lamma dan biarawan dari berbagai vihara di sekitar Yushu segera mendatangi lokasi gempa untuk memberi pertolongan.
Sebuah foto yang dikirimkan seorang netter asal Tibet memperlihatkan para Lamma menggunakan kasur sebagai tandu untuk mengangkut para korban. Umumnya korban diangkut dengan tandu, namun karena minimnya peralatan evakuasi dan tidak diizinkannya bantuan pihak asing, maka warga hanya bisa menggunakan peralatan seadanya.
Menurut pemberitaan AP, seorang biarawan muda mengeluhkan lambatnya tindakan yang dilakukan tim penyelamat utusan pemerintah saat proses evakuasi korban, terkadang pertolongan baru mulai dilakukan setelah ada lensa kamera yang menyorot ke arah mereka.
Sebuah informasi menyebutkan sempat terjadi bentrok antara biarawan dengan para tentara saat proses evakuasi (17/4) lalu. Biarawan mengkritik penggunaan alat berat oleh para tentara saat menggali reruntuhan karena akan menewaskan para korban tertimbun yang kemungkinan masih hidup dan mengakibatkan jasad korban rusak. Selain itu, tentara juga melarang biarawan untuk mendekati lokasi dan membantu proses evakuasi.
 
sumber:epochtimes.co.id

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost