Jumat, 30 April 2010

Keramat Dayeuh Ciomas Majalengka

Majalah Online kali ini akan menyingkap tempat tempat misteri yang ada di indonesia, salah satunya yaitu di kawasan majalengka ... penasaran kan .. yu sama-sama kita lihat beritanya...


Kawasan Sukahaji Majalengka rupanya menyimpan rahasia mistis. Di sana tercecer kantung-kantung mistik dan keramat yang rutin dikunjungi para pencari berkah dari berbagai daerah. Sebut saja Buyut Cibuntu, Sumur Mas, Dangdeur Pugur, dan lain-lain tempat yang menawarkan harapan masa depan atas restu kekuatan alam gaib. Dangdeur Pugur, misalnya, diam-diam merupakan tempat berburu pesugihan.

Lokasi yang satu ini lebih sering disebut-sebut para pengalap berkah dari berbagai daerah. Namanya Dangdeur Pugur. Letaknya disebuah kampung di Desa Ciomas, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Warga setempat, bahkan tak terlalu ambil peduli dengan kekuatan mistis yang diyakini bersemayam di tempat ini. Mereka cenderung cuek, atau bahkan nyaris tak banyak yang tahu akan daya tarik mistik yang tersembunyi. cerita ini banyak sekali di jadikan bahan untuk situs situs yang bertajuk misteri, dan majalah online tak mau ketinggalan berita...

Entah siapa yang menghembuskan kabar keluar kawasan Ciomas soal daya tarik mistik tempat ini. Diduga keras, kabar itu berhembus dari mulut ke mulut. Dari satu peziarah ke peziarah lain. Dan seperti mendapat promosi gratisan, nama Dangdeur Pugur, sama halnya dengan Sirah Dayeuh Ciomas, menjadi terkenal namanya di kalangan pencari berkah. Bahkan Samsudin (50), seorang pengalap berkah dari Indramayu, sengaja datang ke Dayeuh Ciomas berdasar informasi seorang rekan.

Tokoh Cina
Dangdeur Pugur adalah tempat keramat yang masih ada hubugannya dengan Sirah Dayeuh Ciomas, namun letaknya terpisah satu sama lain. Orang pasti tak akan menyangka lokasi ini menjadi ajang berburu pesugihan. Sebab selain letaknya di tengah perkampungan penduduk, posisinya persis di dekat sebuah surau. Namun, siapa sangka tempat ini menyimpan daya tarik mistik luar biasa.

Sejarah daerah Ciomas, diyakini bertolak dari nama seorang tokoh yang dipusarakan di makam keramat yang ada di sini. Ia adalah seorang Cina bernama Pak Cio. Menurut keterangan masyarakat di sana, asal muasal nama Desa Ciomas diambil dari nama tokoh ini. Suku kata “Cio” diambil dari nama Pak Cio, sedangkan suku kata “mas” diambil dari nama sumur Mas yang ada di kompleks keramat Buyut Cibuntu, Dayeuh Ciomas.

Mengapa nama Pak Cio diabadikan menjadi nama desa? Sebab dialah yang pertama kali membuka hutan Sukahaji dan menyulapnya menjadi perkampungan yang ramai. Secara fisik, Dangdeur Pugur mudah dikenali oleh menjulangnya sebuah pohon beringin yang berusia lebih dari seratus tahun. Akar-akar pohon yang menjuntai, menjadi ciri yang mudah ditebak. Nah, persis di bawah pohon beringin itulah makam Pak Cio berada.

Namun, tak banyak yang menduga bila komplek Dangdeur Pugur ini kerap dijadikan ajang mencari pesugihan. Sebuah upaya memperoleh kekayaan melalui persekutuan dengan siluman penunggu pohon beringin.Menurut keterangan masyarakat, di tempat ini seringkali terlihat orang sedang melakukan tirakat. Ia duduk di sana berlama-lama, mulutnya komat kamit, dan kelakuan itu terus berlangsung hingga tengah malam. Esoknya, orang ini tak terlihat lagi.

Seperti sudah maklum, masyarakat di sana tak ambil pusing dengan berbagai kelakuan para peziarah. Mereka amat toleransi dan menganggap itu merupakan bagian dari keyakinan orang lain. Toh, selama ini kampung tak ada gangguan oleh kedatangan ramainya para peziarah. Yang terjadi justru sebaliknya, kampung menjadi ramai dan hidup.

Siluman pesugihan

Bagdja Mulia, seorang spiritualis yang kerap mengantar peziarah asal Sumedang, menceritakan bila tempat ini memang biasa digunakan sebagai sarana mencari pesugihan. Mulanya, orang yang datang ke sini hanya sekadar bertawasul, setelah itu pulang lagi. Namun entah sejak kapan ada orang mencari pesugihan di tempat ini. “Karena itulah peziarah harus hati-hati, jangan terjebak dengan siluman pesugihan,” Bagdja Mulia mewanti-wanti.

Bagdja menduga, siluman pesugihan yang kerap muncul dalam berbagai wujud itu bersemayam di pohon beringin di samping makam Pak Cio. Orang yang batinnya lemah dan tak kuat iman, akan mudah terseret dalam transaksi gaib dengan siluman itu. Bagdja sendiri pernah membuktikannya.

Suatu hari, Bagdja Mulia datang ke Dangdeur Pugur untuk melakukan tirakat. Tepat tengah malam, saat bersemadi, tiba-tiba dihadapannya muncul seorang wanita cantik. Mata batin Bagdja yang sudah terasah, langsung merasakan getaran negative yang ditebar wanita ini. Ia tak lain adalah siluman yang menjelma menjadi menjadi wanita dan hendak menggoda dirinya.

Dan benar saja, tak lama setelah kemunculannya yang mendadak, wanita cantik itu bertanya dengan lemah lembut. “Apa yang kamu inginkan?” Tanya si wanita ke arah Bagdja, yang kemudian dijawab tak menginginkan apa-apa, melainkan hanya ingin mendoakan ahli kubur dan mendapat barokah dari Yang Maha Kuasa. Mendapat jawaban itu, mahluk berwujud wanita cantik itu segera menghilang entah kemana.

Menurut Bagdja, trik-trik siluman pesugihan menggaet sasarannya bermacam-macam. Orang yang batinnya lemah, saat melakukan tirakat pasti akan didatangi dalam berbagai wujud. Bila ia seorang lelaki, siluman yang muncul akan berwujud perempuan cantik jelita. Bila orang tua yang tirakat, yang muncul adalah suara gaib seolah-olah petunjuk atau wangsit. “Padahal semua itu adalah tipu daya siluman. Hati-hatilah,” tandas Bagdja.

Menurut penuturan para peziarah yang ditemui posmo di Dayeuh Ciomas, keramat Dangdeur Pugur memang sering dijadikan arena mencari pesugihan. Akan tetapi, karena syarat atau tumbalnya sering berupa penderitaan diri pemohon, maka banyak orang yang menolak bersekutu dengan siluman Dangdeur Pugur.

Olot (45), peziarah asal Cirebon misalnya, pernah didatangi seseorang yang menawarkan kekayaan. Mulanya saya merasa yakin dan tertarik ajakan dia. Maklumlah, selama ini kesulitan ekonomi tengah menghimpit Olot. “Tapi karena dia minta agar saya mau menjadi pengemis selama tiga bulan, maka permintaannya saya tolak. Biar miskin saya masih punya harga diri,” tegas Olot.

Mak Oyah (63), istri kuncen Dayeuh Ciomas yang juga mengelola keramat Dangdeur Pugur, mengatakan bila Dangdeur Pugur bukan tempat untuk mencari pesugihan. Yang benar adalah tempat bertawasul kepada Yang Maha Kuasa agar permohonannya diijabah. “Hanya saja doanya dilakukan di makam Babah Cio. Sebenarnya doa itu bisa dikirim dari sini (Dayeuh Ciomas),” tutur Mak Oyah.
Tapi Mak Oyah tidak menampik kemungkinan tersebut. Sebab semua itu diserahkan kepada orang yang menginginkannya. “Kalau jalan melalui pesugihan yang ingin ditempuh, silakan saja. Asalkan dia sanggup menanggung segala akibatnya,” ungkap wanita yang selalu setia menemani Wirta (75), suaminya yang bertugas sebagai kuncen Dayeuh ciomas itu.

Mak Oyah menjelaskan bila keramat Ciomas sebenarnya menolak dimintai hal-hal tidak benar. Jangankan minta pesugihan, orang yang memohon mendapatkan nomor jitu untuk permainan judi togel saja ditolak. “Di sini tempat memohon kehidupan lebih baik dengan cara yang baik,” katanya seraya menyerahkan semuanya kepada Yang Di Atas.



Dijaga Khodam Harimau Putih

Di kompleks Dayeuh Ciomas terdapat beberapa makam, tiga bongkah batu, dua sumur, serta sebuah pancoran yang semuanya dikeramatkan. Tak boleh main-main dan anggap enteng tempat-tempat itu, bila ingin masa depannya terang.

Menuju kompleks Sirah Dayeuh Ciomas, orang harus berjuang ekstra keras. Pertama, ia harus melalui pematang sawah sejauh kurang lebih 2 km. Dan kedua, ia harus rela turun naik perbukitan dengan jalan berbatu yang jarak tempuhnya kurang 2 km. Meski medan berat, anehnya, setiap hari puluhan orang datang ke Dayeuh Ciomas. Medan berat tak menyurutkan langkah-langkah para peziarah ini.

Yang datang ke tempat ini pun beragam. Rata-rata berasal dari luar Majalengka, seperti Bandung, Sumedang, Cirebon, Kuningan, bahkan Jakarta dan daerah Jawa Tengah. Tiap hari, ada saja yang datang ke tempat ini memohon berkahnya. Dan pulangnya, mereka selalu membawa botol minuman kemasan yang berisi air dari Sumur Mas, Sumur Cikajayaan dan Pancuran Cikahuripan.

Buyut Cibuntu

Sirah Dayeuh Ciomas kerap pula disebut keramat Buyut Cibuntu. Tempat ini memang terkenal karena kabar dari mulut ke mulut. Akan tetapi, banyak peziarah tak ambil pusing yang mana makam Buyut Cibuntu dan mana makam Nyi Ciptarasa. Orang kerap kali terkecoh dengan makam Nyi Ciptarasa yang letaknya lebih nyaman dan terletak dalam sebuah bangunan permanen. Makam inilah yang justru lebih banyak diziarahi. Selain itu, di dekat makam Nyi Ciptarasa terdapat tiga sumur keramat dan batu Panayogian Rizki.

Siapa sebenarnya Buyut Cibuntu yang terkenal itu? Beliau adalah orang yang berjasa membuka areal perkampungan ketika masih berbentuk hutan belantara. Hanya saja, tak ada catatan apa hubungannya dengan Pak Cio, orang Cina yang juga membuka perkampungan Ciomas. Akan tetapi, dalam perkembangannya, dua tokoh ini memang amat disegani dan makamnya selalu ramai diziarahi.

Makam Buyut Cibuntu terletak di lereng atas bukit Cibuntu. Nama aslinya adalah Raden Brasma, yang juga kerap disebut Raden Semar. Yang bertanda ke tempat ini umumnya adalah mereka yang terjerat berbagai pelik dalam hidupnya. Semisal tengah dililit perkara hukum, sampai problem utang piutang. Namun, tidak sedikit pula yang meminta aji pengasih dan penglarisan untuk usaha.

Hanya saja, para peziarah jarang mengunjungi makam Buyut Cibuntu. Sebab selain medannya lebih berat, hampir berada di puncak bukit, jalannya juga terjal dan licin bila hujan turun. Karena itulah Wirta, kuncen Buyut Cibuntu, menyarankan agar doa dilantunkan di sisi pusara Nyi Ciptarasa yang tempatnya berada di dalam sebuah bangunan.

Menurut cerita yang berkembang, makam Buyut Cibuntu paling dikeramatkan diantara tempat keramat yang ada di Sukahaji. Selain karena menuju ke lokasi yang sulit, makam Mbah Buyut Cibuntu juga dijaga harimau putih gaib. Harimau ini memang tak kasat mata dan juga tak pernah mengganggu manusia. Namun bagi mereka yang awas batin, pasti dapat melihat kehadiran harimau tersebut.

Tanah dari makam Mbah Raden Brasma atau Buyut Cibuntu ini sering diambil oleh Wirta tiap hari Jumat kliwon. Tanah itu lalu dimasukkan ke dalam bungkusan-bungkusan kecil oleh Mak Oyah, sang istri, untuk di bawa pulang oleh peziarah. Konon, bila tanah itu ditaburkan di sekitar rumah bisa menangkal segala macam balak seperti serangan santet, teluh dan guna-guna.

Sumur Keramat
Di halaman bangunan makam Nyi Ciptarasa, terdapat dua buah sumur dan sebuah pancoran yang sangat dikeramatkan baik oleh masyarakat setempat, maupun para peziarah. Ketiga sumur ini berusia ratusan tahun. Menurut Wirta, sebelum dirinya lahir, sumur itu sudah ada. Bahkan jauh sebelum kakek dan neneknya lahir. Anehnya, meski tak seberapa dalam, bahkan saat musim kemarau panjang sekalipun, air sumur ini tak pernah kering.

Karena posisinya tidak dalam, siapa pun yang menginginkan air ini bisa langsung mengambilnya dengan cara menciduk. Konon, air sumur ini memiliki banyak khasiat sesuai dengan namanya masing-masing. Sumur yang letaknya disebelah barat di sebut Sumur Cikajayaan. Sumur ini dipercaya bisa memberikan kejayaan bagi pemakainya. Para peziarah Dayeuh Ciomas, selalu menyempatkan diri mandi di sumur ini.

Uniknya, di sebelah sumur ini tampak berserakan uang receh dan lembaran uang kertas ribuan, yang bercampur dengan aneka bunga. Rupanya, setelah mandi, orang selalu menaruh uang dan bunga-bungaan di situ. Tak jelas apa maksudnya. Kabarnya, cara itu dilakukan agar keinginannya mendapatkan kejayaan dalam hidup lekas tercapai.

Menurut sejarahnya, sumur Cikajayaan ini dibuat oleh pendiri atau pembuka daerah Ciomas ratusan tahun silam. Tujuannya untuk mendapatkan sukses dan kejayaan dalam hidup. Semasa jaman perjuangan kemerdekaan, banyak para pejuang yang datang dan meminum air sumur ini sebelum maju ke medan perang. Tujuannya untuk mendapatkan kemenangan dalam pertempuran. Sampai sekarang sumur ni masih diyakini memiliki tuah. Itu sebabnya banyak pengunjung yang datang dari jauh ke sini hanya untuk mandi atau mengambil airnya dalam botol untuk dibawa pulang.

Sumur Cikajayaan konon sangat manjur untuk sinden dan calon artis. Tidak heran bila para peziarah kerap terpesona oleh gadis-gadis yang mandi di sumur Cikajayaan. Mereka rata-rata berwajah manis dan bersuara bagus. Maklum, calon artis dan sinden. Nah, beberapa tiga meter dari sumur Cikajayaan terdapat sebuah sumur yang aneh bin ajaib. Orang menyebutnya Sumur Mas.

Yang mengherankan, warna air sumur ini berwarna kuning keemasan. Benda apapun yang jatuh ke dalam sumur ini, akan tampak berwarna kekuning-kuningan, persis seperti warna emas. Menurut cerita, dulu Nyi Ciptarasa pernah kehilangan sebuah perhiasan terbuat dari emas. Dicari kemana-mana tidak ditemukan. Suatu hari, terdengar suara gaib yang mengatakan bahwa perhiasan itu di salah satu sumur dan larut bersama air itu. Setelah dilihat, ternyata ada sebuah sumur yang airnya berwarna kuning keemasan. Air sumur ini konon manjur untuk pengasihan.

Yang lainnya adalah air pancur Cikahuripan (kehidupan). Air pancuran ini bersumber dari mata air yang dialirkan melalui pipa. Beberapa peziarah sering terlihat antri untuk mengambil airnya. Air ini diyakini memiliki macam-macam tuah yang intinya adalah membawa berkah untuk kehidupan di masa yang akan datang.

Menrutu kuncen Wirta, pemakaian air dari dua sumur dan pancoran ini berbeda satu sama lain. Air sumur Cikajayaan, haru dibawa pulang. Sebab menurut kepercayaan, air sumur itu akan memiliki tuah bila dipakai di rumah masing-masing. Pada jaman perang kemerdekaan dulu, air ini sering digunakan untuk membasuh luka para prajurit. Tak berapa lama ia mengalami kesembuhan. Begitu juga prajurit yang turun mentalnya, setelah dipercik air ini, semangatnya timbul kembali. *

Tiga Batu Penentu Rejeki
Tiga bongkah batu berbeda ukuran tergeletak persis di beranda depan bangunan maam Nyi Ciptarasa. Meski ukurannya berbeda, tapi tak sembarang orang bisa mengangkatnya. Inilah batu yang disebut panayogian rizki atau penentu kerejekian.

Tiga bongkah batu ini berwarna hitam legam, dengan alas batu pula. Menurut catatan, benda ini merupakan peninggalan sejarah purbakala yang dilindungi oleh undang-undang. Sayangnya, tak ada penjelasan resmi asal usul batu dan sejak kapan berada di lokasi itu. Juga tak ada keterangan dimanfaatkan untuk batu ini oleh manusia jaman purba. Yang pasti, dari segi ukuran, batu ini amat menarik hati.

Ukurannya berbeda dan posisinya berurutan mulai yang besar di sebelah kiri sampai terkecil di sebelah kanan. Menurut Wirta, ketiga batu ini disebut panayogian rizki yang dalam bahasa Indonesia berarti batu penentu rejeki. Maksudnya, siapa orang yang sanggup mengangkat batu itu, maka rejekinya akan lancar. Dan siapa yang tidak sanggup mengangkatnya, rejekinya akan seret. Ternyata, banyak pengunjung yang berhasil mengangkat batu itu.

Anehnya, ukuran bobot batu ini tak bisa ditentukan. Sebab batu paling besar yang diperkirakan seberat 50 kg, bisa saja bagaikan seberat 10 kg bila diangkat orang. Artinya, orang bertubuh kecil dan kurus pun, bisa saja mengangkat batu ini dengan mudah. “Itu semua kebesaran Tuhan. Melalui batu ini diperkirakan rejeki seseorang,” tutur Wirta kepada posmo.

Akan tetapi, sebongkah batu kecil bisa saja berbobot puluhan kilo bila diangkat. Itulah penentu kerejekian. Penuh dengan misteri dan tak bisa dinalar dengan akal sehat. Hanya saja, ada syarat saat mengangkat batu ini. Yaitu tidak boleh menimbulkan bunyi setelah diangkat. Sebab bila menimbulkan bunyi berdegum karena beratnya, maka peruntungan rizkinya musnah. Wallahu alam bissawab. *

Reaksi:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost